Powered By Blogger

Sabtu, 09 Februari 2013

TUKANG KUNCI


Ada sebuah cerita yang menurut saya bisa memberi gambaran yang jelas tentang pentingnya integritas dalam menjalankan peran kehidupan. Ada seorang ahli kunci yang usianya sudah sangat renta. Ia merasa harus segera mewariskan ilmunya. Ia hendak mewariskan keahliannya itu kepada satu diantara dua murid yang selama beberapa tahun ini dididiknya. Untuk memilih satu diantara keduanya, sang ahli mengadakan ujian terakhir kepada keduanya.

Sang guru menyiapkan dua kotak yang berisi beragam perhiasan berharga. Kotak itu terkunci digembok yang kuat. Masing-masing murid diberi satu kotak yang mereka belum tahu isi kedua kotak itu. Mereka diuji siapakah yang paling cepat membuka gembok dari kotak tersebut.

Kedua murid akhirnya masuk dalam waktu yang bersamaan ke dalam ruangan yang telah disediakan. Tak butuh waktu yang lama, salah satu murid tiba-tiba keluar dari ruangan sambil membawa gemboknya. Sang guru bilang, “ Kamu cepat sekali menyelesaikannya, apa isi kotak itu?” Murid pertama menjawab, “ Emas dan permata yang berkilau, guru. Pasti harganya sangat mahal.”

Beberapa saat kemudian, murid kedua keluar. Guru pun tanya kepadanya,” Kamu telat muridku, ia bisa menyelesaikan lebih cepat darimu. Oh ya, apa isi kotakmu?” Murid kedua menjawab dengan lugu, “Maaf guru, saya tidak tahu. Saya kira membuka kotak itu dan melihat isinya bukan termasuk dalam ujian ini.”

Sang guru tersenyum puas dengan jawaban murid kedua. Ia kemudian memilih murid kedua sebagai orang yang akan mewarisi keahliannya sebagai tukang kunci terbaik.

Murid pertama protes pada gurunya, “ Guru, bagaimana bisa guru memilih dia sebagai penerus guru. Padahal jelas-jelas saya yang bisa membuka gembok itu lebih cepat ketimbang dia. Guru tidak adil.”

Sang guru pun menjelaskan dengan bijak, “ Muridku, ingatlah, profesi kita adalah seorang tukang kunci. Tugas kita adalah membantu orang untuk membuka gembok yang kuncinya hilang atau rusak. Hanya itu. Sedangkan untuk tahu isinya bukanlah wewenang kita. Bisa jadi isi kotak itu adalah rahasia dari pemiliknya. Maka tidak dibenarkan kita menuruti rasa penasaran kita terhadap isi kotak itu. Hanya pemiliknya saja yang berhak tahu isinya. Inilah etika profesi yang harus kita pegang sebagai tukang kunci. Tanpa etika, pekerjaan kita bisa berakibat keburukan.”

Akhirnya murid pertama pun mengerti maksud dan tujuan dari guru tersebut.

Kawan. Ketika kita mendengar istilah profesional, kebanyakan yang terbayang dalam benak kita adalah suatu pekerjaan ahli dari yang ahli. Benarkan? Entah itu konsultan, pengacara, dokter, insinyur, dan lain sebagainya.

Namun satu hal yang selama ini banyak dilupakan, bahwa dalam kata profesional sebenarnya melekat tentang tanggung jawab moral, dan etika dalam menjalankan profesi yang ditekuninya.
Sayangnya, saat ini profesionalisme telah mengalami penyempitan makna. Pengertian professional kini dipahami lebih dekat kepada standar bayaran yang tinggi serta penampilan yang mewah. Tak peduli bagaimana moral orang tersebut. Asalkan ia berpenampilan sebagai ahli dan pakar dalam bidangnya, cukuplah baginya memegang sebutan profesional.

Padahal dengan jelas pengalaman membuktikan betapa pentingnya etika dalam kehidupan. Jika kita membaca sejarah, kita akan menemukan bahwa prinsip yang paling menonjol dari perjalanan bisnis Rasulullah adalah petuah klasik yang mengatakan ‘ Money is not number one capital in business, the number one capital is trust.’ Uang bukanlah modal utama dalam berbisnis. Ketika penipuan, kompetisi tak sehat, pengurangan takaran, serta persengketaan menjadi suatu hal yang lazim dalam praktik bisnis pada saat itu sampai sekarang.

Jadi profesionalisme bukan hanya bersandar pada seberapa ahli kemampuan seseorang menjalani profesi yang ditekuni, tapi yang lebih memegang peranan lebih penting adalah akhlak dan moralnya. Bila ada orang punya keahlian tapi miskin moral, maka dia disebut amatir. Artinya tidak terlatih secara penuh sebagai seorang yang professional. Maka jadilah seorang professional yang bukan ahli dalam bidangnya saja, tapi dalam akhlaknya juga.

Kita pasti bisa, jika kita mau ! J


KEKUATAN DIRI


Sejak saat kepergian ayahnya. Tommy dan Ibunya hanya hidup berdua. Mereka tinggal di sebuah desa terpencil dengan rumah sederhana pemberian sepeninggal ayahnya. Keadaan ekonomi yang kekurangan tidak membuat sang ibu pupus harapan memberikan pendidikan terbaik  untuk anaknya. Ia selalu berharap dalam setiap doanya, anaknya Tommy menjadi anak yang dibanggakan dan berguna. Namun, ketika semua yang diharapkan dalam doanya berbeda, ibunya Tommy tetap berusaha dan yakin.

Suatu hari seorang bocah berumur empat tahun bernama Tommy. Sepulang dari sekolah ia membawa secarik kertas. Bukan kertas biasa, tapi itu adalah surat dari gurunya. Ibunya pun membaca kertas tersebut, “ Anak Ibu, Tommy, sangat bodoh. Kami minta Ibu mengeluarkannya dari sekolah.”

Sang ibu terkejut membaca surat itu. “Gila! Kasar sekali isi surat ini,” pikir ibu Tommy. Sang ibu akhirnya membuat tekad yang kuat, “ Anakku, Tommy, bukan anak bodoh. Kalau sekolah tidak mampu, biar aku sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”

Sejak saat itu, surat itu selalu disimpan ibunya. Ibunya Tommy bertekad kuat akan membuktikan bahwa anaknya tidak bodoh. Setiap selesai bekerja dan di sela waktu luangnya, Ibunya selalu menyempatkan mengajarkan Tommy. Ibu hebat itu tak pernah mengenal lelah. Hingga suatu ketika Tommy kecil yang dahulu anak yang dianggap bodoh, telah tumbuh dewasa dan berubah menjadi anak yang luar biasa.

Ya, Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison. Seorang penemu terhebat dan terkenal sekarang di dunia. Dan ibu hebat itu adalah Nancy Edison, ibunya Tommy.

Kawan. Kekuatan diri yang diberikan oleh Tuhan sebagai modal kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Kita sebagai manusia selalu mengganggap kekuatan dan kemampuan yang kita miliki tidak dapat diandalkan. Banyak dari kita yang kurang menggali potensi diri sehingga kita pun sering kali merasa semua tidak akan mungkin dilakukan. Akibatnya kita menjadi orang yang kurang percaya diri.

Padahal manusia diciptakan Tuhan selalu memiliki potensi besar. Namun, terkadang seperti itulah perilaku manusia. Tak sadar tentang kehebatan yang dikaruniakan Tuhan padanya. Ia dicipta sebagai makhluk dengan potensi yang hebat, tapi karena kerumitan hidup di masyarakat, pengaruh apa yang dilihat dan didengar di lingkungannya, telah memudarkan keyakinan dalam dirinya bahwa ia punya potensi dahsyat yang bisa menghebatkan masa depannya.

Intinya yakinlah dengan dirimu sendiri. Potensimu lebih dahsyat, jika kita mau !




Kekasih Sejati


Kekasih sejati. Kekasih yang menjadi pelipur gundahnya hati. Kasih yang senantiasa mencinta tanpa henti. Kekasih yang tidak akan meninggalkan kita saat duka. Kekasih yang rela menjadi teman dari hidup sampai mati.

Namun, dimanakah kekasih sejatiku? Apakah mungkin kutemukan kekasih sejati yang sesuai hatiku. Kekasih sejati yang terus mendampingiku dari hidup sampai mati. Kalau begitu harus kusiapkan dulu pribadiku untuk mendapatkan seperti itu. Hingga tiba saatnya, aku telah siap dengan segala kemungkinan yang ada. Tapi, kalau tidak sesuai gimana? Terlalu rumit dipikirkan dan hanya menimbulkan kesusahan hati saja.

Kawan. Kadang kita berpikir seperti itu. Sebenarnya, jika kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan, kekasih sejati itu, pasti akan kita temukan jalannya disetiap niat yang kita ingin dapatkan. Karena Tuhan mencipta semua makhluk-Nya secara berpasang-pasangan. Setiap manusia sudah disertakan jodohnya masing-masing. Dan hebatnya, jodoh itu tak hanya dimungkinkan bersama tatkala di dunia, tapi juga memiliki kemungkinan untuk bersama di alam abadi-Nya. Jadi dalam  agama ada yang namanya kekasih sehidup semati. Kekasih yang di dunia mendampingi, di akhirat juga menemani.

Ikatan kekasih itu juga akan menjadi pernikahan abadi, jika kita sudah menemukan kekasih terbaik. Pilih kekasih yang bisa menjadi pendamping terbaik sampai ajal menghampiri. Saat sudah menikah, Suami istri hidup bagaikan dua sayap rajawali. Keduanya harus berkibas seiring dan seirama. Keduanya juga tak boleh berat sebelah. Jika sudah demikian, yakinlah rumah tangga pun bisa terbang mengangkasa, menuju puncak bahagia. Hehheehe…….

Tapi, adakah cara untuk memilih kekasi terbaik? Yang akan menjadi kekasih sejatiku. Yang pertama, perbaiki diri. Ketika kau mendamba hadirnya kekasih saleh sedang kau sendiri tak kunjung mensalehkan diri, gimana bisa menemukannya. Semua itu saling berdampingan. Lelaki saleh berdampingan dengan wanita salehah. Kebaikan pantasnya berdampingan dengan kebaikan. Dekatkan jodoh yang mulia dengan akhlak muliamu. Rekatkan kekasih yang indah dengan sifat indahmu.

Mau jodoh yang pemurah? Dermawanlah. Mau yang pinter? Belajarlah. Mau yang santun? Ramahlah. Mau yang sabar? Sabarkan diri.

Lalu kapan waktunya tiba? Waktu itu akan tiba ketika dirimu telah siap dan pantas untuk mendapatkan kekasih sejati itu.

Maka siapkanlah dirimu, jika kau mau ! J

LAHIR, HIDUP, MATI KITA ANUGERAH


Hanya ada satu kemungkinan ketika  bermiliaran ‘saudara kandung anda’  tak lolos dalam pertempuran kala itu, dan hanya andalah orang yang berhasil lolos. Suatu kebanggan bukan?  Lalu sebagai manusia yang unik, bukankah kebanggan ketika tak ada satupun di dunia ini yang menyamai kita. Tak ada satu pun yang lahirnya, pengalaman hidupnya, serta matinya sama dengan Anda. Sebuah mahakarya special yang diciptakan pada diri kita. Penciptaan yang tiada duanya.

Tercipta dan dilahirkan sebagai makhluk sempurna dihadapan Tuhan adalah suatu anugerah yang harganya tak terhingga. Pendengaran, penglihatan,dan semua yang telah diberikan  ketika kita lahir.Harga Anda tak ternilai !

Kita adalah makhluk special. Makhluk special tentu dihargai dengan tugas special. Makhluk terhormat diber i tugas terhormat, dan makhluk berharga harus diberi tanggungjawab berharga. Jika makhluk terhormat diberi tugas yang remeh,tentu itu merupakan pelecehan terhadapnya. Makhluk istimewa diberi  tugas yang biasa-biasa saja, tentu itu bentuk penghianatan. Seharusnya, Orang besar harus diberi tugas besar.
Begitu pun manusia sebagai makhluk yang harganya tak ternilai, tugas yang diberikan oleh Tuhan juga  tak ternilai. Tugas menjadi seorang khalifah ( pemimpin ) di muka bumi.

Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab yang disertakan Tuhan atasnya. Berani jadi manusia harus berani mengemban tugas kehormatan yang diamanatkan oleh Sang pencipta kepadanya.
Tapi lihatlah perilaku begitu banyak manusia. Mereka melecehkan dirinya dengan tertunduk kepada makhluk yang lebih rendah darinya. Mereka menjual martabat demi meraih pangkat. Mereka menukar harga dirinya demi meraih limpahan harta. Mereka mengorbankan kemuliaannya dengan mengisi hidupnya dengan beragam aktifitas yang tak pantas dilakukan oleh sesosok manusi yang mulia.

“ Sebenarnya diri kita lebih mahal ketimbang uang, maka jangan kejar uang. Jadikan uang yang mengejar kita.” Begitulah pernyataan Emha Ainun Nadjib yang pernah saya baca. Uang harus hanya menjadi efek moral dari sebuah pekerjaan.

Jangan pernah meremehkan hasil karya  Tuhan dengan pilihan-pilihan hidup kita yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas-aktivitas kita yang kerdil. Sebuah kedurhakaan jika kita sebagai makhluk istimewa hanya mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak layak dikerjakan. Tentu tak akan jadi istimewa hidup kita ini kalau hanya numpang lewat hidup di bumi. Lahir,hidup,mati tanpa meninggalkan warisan berharga. Tanpa memberikan kontirbusi yang bermanfaat bagi sekitrnya.

Menyesali kesalahan-kesalahan selama ini dan berharap menjadi lebih baik setiap harinya adalah suatu cara yang lebih mengubah hidup ini untuk lebih bersyukur dengan apa yang telah diberi Sang Pencipta. Saya Cuma bias bilang, Hidup adalah kompetisi, persaingan dan selalu hanya terdapat dua pilihan dalam hidup ini. Ada sukses, ada gagal. Ada kaya, ada miskin. Ada naik, ada turun. Maka berlombalah. Saat kita berjalan, ternyata di tempat lain orang sedang berlari cepat mengejar impiannya masing-masing, apakah kita akan diam?

Jika kita mau, pasti bisa ! Salam semangat !